Selasa, 17 Mei 2016

Tabel Kriteria Pembangunan Infrastruktur Jalan dan Jembatan yang Wajib dilengkapi dengan AMDAL atau RKL dan RPL

No
Jenis Proyek
Wajib dilengkapi AMDAL (Skala/besaran)*)
Wajib dilengkapi
RKL dan RPL (Skala/besaran)**)
1
Jalan tol dan jalan layang
a.     Pembangunan jalan tol
b.     Pembangunan jalan laying atau subway
c.    Peningkatan jalan tol dengan pembebasan lahan untuk Damija
d.    Peningkatan jalan tol tanpa pembebasan lahan untuk Damija


a.       Semua besaran
b.      Panjang ≥ 2 km
-
-

-


-
b. Panjang < 2 km

c.     Semua besaran

d.    Panjang ≥ 5 km

2
Jalan raya
 A. Pembangunan/peningkatan jalan dengan pelebaran di luar Damija
·  Di kota besar/metropolitan :
ü  Panjang, atau
ü  Luas pembebasan tanah
·  Di kota sedang
ü  Panjang, atau
ü  Luas pembebasan tanah
·  Pedesaan/antar kota
ü  Panjang

B. Peningkatan jalan dengan pelebaran pada Damija yang ada
·  Di kota besar/metropolitan (Jalan arteri atau kolektor)






Panjang > 5 km
Luas > 10 Ha

Panjang > 10 km
Luas > 10 Ha

Panjang > 30 km



-




1 km <panjang<5 km
2 Ha < luas < 5 Ha

3km<panjang<10 km
5Ha < luas < 10 Ha

5km<panjang<30 km



Panjang > 10 km
3
Jembatan
a.       Pembangunan jembatan dikota besar/metropolitan
b.      Pembangunan jembatan dikota sedang/lebih kecil

-

-

Panjang > 20 km

Panjang > 60 km



 
*) : Berdasarkan keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 17 Tahun 2001
**) : Berdasarkan Kepmen Kimpraswil No.17/KPTS/2003
Catatan :
Kota metropolitan           : Jumlah penduduk > 1.000.000 jiwa
Kota Besar                          : Jumlah penduduk 500.000 – 1.000.000 jiwa
Kota sedang                       : Jumlah penduduk 200.000 – 500.000 jiwa
Kota keci                              l: Jumlah penduduk 20.000 – 200.000 jiwa
Kota di pedesaan             : Jumlah penduduk 3000 – 20.000 jiwa

Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan dalam Pembangunan Infrastruktur Jalan dan Jembatan
Kebijakan pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan yang berwawasan lingkungan telah diatur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 69/PRT/M/1995 tentang Pedoman Teknis AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum, yang pada prinsipnya mengatur semua aspek lingkungan pada seluruh siklus pembangunan proyek bidang pekerjaan umum, termasuk proyek pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan.
Siklus pembangunan proyek infrastruktur jalan dan jembatan terdiri dari 8 (delapan) kegiatan (Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan,DPU,2006) yaitu :
1.         Perencanaan umum
2.         Pra studi kelayakan
3.         Studi kelayakan
4.         Perencanaan teknis
5.         Pra konstruksi
6.         Konstruksi
7.         Pasca konstruksi
8.         Evaluasi pasca konstruksi

Namun, tidak semua siklus dilaksanakan dalam kegiatan pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan, sebagai contoh dengan pertimbangan tertentu suatu proyek pembangunan jalan dan jembatan setelah perencanaan umum langsung studi kelayakan tanpa adanya pra studi kelayakan. Penerapan pertimbangan lingkungan seperti yang tercantum  di atas, dapat dijelaskan sebagai berikut :

a.      Tahap perencanaan umum
Siklus proyek atau pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan diawali dengan perencanaan umum yang berupa gagasan awal baik ide pembangunan jalan atau jembatan baru maupun peningkatan jalan atau jembatan yang telah ada. Walaupun masih berupa perencanaan umum dan belum adanya kegiatan fisik, namun pihak pemrakarsa proyek sudah harus mengidentifikasi sedini mungkin dampak yang akan ditimbulkan dengan adanya proyek atau pembangunan jalan dan jembatan terhadap lingkungan, melalui proses penyaringan lingkungan. Dengan adanya proses penyaringan tersebut akan didapat gambaran apakah suatu proyek perlu adanya AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) atau cukup dengan RKL (Rencana Pengelolaan Lingkungan) dan RPL (Rencana Pemantauan Lingkungan) ataupun cukup dengan penerapan SOP (Standard Operation Procedure). Adapun kriteria kegiatan pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan yang wajib AMDAL atau RKL dan RPL dapat dilihat pada tabel di bawah.


TABEL BESI


TABEL BESI

BESI BETON POLOS & ULIR
UKURAN BERAT
(mm) (Kg) Beton Rasio
6 0,222 0 -
8 0,395 1 Kg/m3
9 0,500 2 Kg/m3
10 0,617 3 Kg/m3
12 0,888 4 Kg/m3
13 1,040 5 Kg/m3
16 1,578 6 Kg/m3
16 1,578 7 Kg/m3
19 2,223 8 Kg/m3
22 2,985 9 Kg/m3
25 3,853 10 Kg/m3
28 4,830 11 Kg/m3
29 5,185 -
32 6,313
36 7,990
6p 0,22
8p 0,4
9p 0,5
10p 0,62
12p 0,89
13p 1,04
16p 1,57
16p 1,58
19p 2,23
22p 2,98
25p 3,85
28p 4,83
29p 5,19
32p 6,31
36p 7,99

RANGKUMAN BEBAN SN 1723-2013


Berikut ini adalah rangkuman yang ada didalam peraturan pembebanan gedung di Indonesia.
Kombinasi Pembebanan :
·         Pembebanan Tetap                                        : M + H
·         Pembebanan Sementara                                : M + H + A
                                                                       : M + H + G
·         Pembebanan Khusus                                     : M + H + G
                                                                       : M + H + A + K
                                                                       : M + H + G + K
dengan,
M = Beban Mati, DL (Dead Load)
H = Beban Hidup, LL (Live Load)
A = Beban Angin, WL (Wind Load)
G = Beban Hidup, E (Earthquake)
K = Beban Khusus
                Beban   Khusus,   beban   akibat   selisih   suhu,   pengangkatan   dan   pemasangan, penurunan pondasi, susut, gaya rem dari keran, gaya sentrifugal, getaran mesin.
Perencanaan komponen struktural gedung direncanakan dengan kekuatan batas (ULS), maka beban tersebut perlu dikalikan dengan faktor beban.
                Pada   peninjauan   beban   kerja   pada   tanah   dan   pondasi,   perhitungan   Daya   Dukung   Tanah (DDT) izin dapat dinaikkan (lihat tabel).
Jenis Tanah Pondasi
Pembebanan Tetap DDT izin (kg/cm2)
Pembebanan Sementara kenaikan DDT izin (%)
Keras
≥ 5,0
50
Sedang
2,0 – 5,0
30
Lunak
0,5 – 2,0
0 - 30
Sangat Lunak
0,0 - 0,5
0
Note : 1 kg/cm2 = 98,0665 kPa (kN/m2)

Faktor keamanan (SF ≥ 1,5) tinjauan terhadap guling, gelincir dll. Beban Mati, berat sendiri bahan bangunan komponen gedung.



BAHAN BANGUNAN.
Baja  …………………………………………………………………………: 7.850 kg/m3
Batu Alam ……………………………………………………………….      : 2.600 kg/m3
Batu belah, batu bulat, batu gunung (berat tumpuk)                                       : 1.500 kg/m3
Batu karang (berat tumpuk) …………………………………..                      : 700 kg/m3
Batu pecah  …………………………………………………………….         : 1.450 kg/m3
Besi tuang   ……………………………………………………………..         : 7.250 kg/m3
Beton (1)    ……………………………………………………………..          : 2.200 kg/m3
Beton bertulang (2)  ……………………………………………….                 : 2.400 kg/m3
Kayu (Kelas I) (3)     : 1.000 kg/m3
Kerikil, koral (kering udara sampai lembap, tanpa diayak)                              : 1.650 kg/m3
Pasangan bata merah  ……………………………………………                   : 1.700 kg/m3
Pasangan batu belah, batu belat, batu gunung ………                                      : 2.200 kg/m3
Pasangan batu cetak    ……………………………………………                   : 2.200 kg/m3
Pasangan batu karang  …………………………………………                       : 1.450 kg/m3
Pasir (kering udara sampai lembap) ………………………                              : 1.600 kg/m3
Pasir (jenuh air)          ………………………………………………                : 1.800 kg/m3
Pasir kerikil, koral (kering udara sampai lembap)                                              : 1.850 kg/m3
Tanah, lempung dan lanau (kering udara sampai lembap)                                  : 1.700 kg/m3
Tanah, lempung dan lanau (basah)                                                                      : 2.000 kg/m3
Tanah hitam        ……………………………………………...........                  : 11.400 kg/m3

KOMPONEN GEDUNG
Adukan, per cm tebal :
- dari semen                                                                      : 21 kg/m2
- dari kapur, semen merah atau tras                        : 17 kg/m2
Aspal, termasuk bahan-bahan mineral tambahan,  per cm tebal : 14 kg/m2
Dinding Pas. Bata merah :
- satu batu                                                                          : 450 kg/m2
- setengah batu                                                                : 250 kg/m2
Dinding pasangan batako :
Berlubang :
- tebal dinding 20 cm (HB 20)  : 200 kg/m2
- tebal dinding 10 cm (HB 10)  : 120 kg/m2
Tanpa lubang
-  tebal dinding 15 cm  : 300 kg/m2
-  tebal dinding 10 cm  : 200 kg/m2

Langit-langit dan dinding (termasuk rusuk-rusuknya, tanpa penggantung langit-langit atau pengaku), terdiri dari :
- semen asbes (eternit dan bahan lain sejenis), dengan tebal maksimum 4 mm : 11 kg/m2
- kaca, dengan tebal 3 – 4 mm 10 kg/m2
Lantai kayu sederhana dengan balok kayu, tanpa langit-langit dengan bentang maksimum 5m : 40 kg/m2,
dan untuk beban hidup maksimum : 200 kg/m2
Penggantung langit-langit (dari kayu), dengan bentang maksimum 7 kg/m2 5m dan jarak s.k.s minimum 0,8 m
Penutup atap genting dengan reng dan usuk/kaso per m2 50 kg/m2
Bidang atap
Penutup atap sirap dengan reng dan usuk/kaso per m2      : 40 kg/m2
Penutup atap seng gelombang (BWG 24) tanpa gordeng  : 10 kg/m2
Penutup lantai dari ubin semen portland, teraso dan beton, 24 kg/m2 tanpa adukan, per cm tebal
Semen asbes gelombang (tebal 5 mm) : 11 kg/m2
Catatan :
(1) Nilai ini tidak berlaku untuk beton pengisi
(2) Untuk beton getar, beton kejut, beton mampat dan beton padat lain sejenis, berat sendirinya harus ditentukan sendiri.
(3) Nilai ini adalah nilai rata-rata, untuk jenis kayu tertentu lihat Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia.
Beban Hidup pada lantai gedung, sudah termasuk perlengkapan ruang sesuai dengan
kegunaan dan juga dinding pemisah ringan (q ≤ 100 kg/m'). Beban berat dari lemari arsip, alat dan mesin harus ditentukan tersendiri.
Tabel Beban Hidup pada Lantai Gedung.
a              Lantai dan tangga rumah tinggal, kecuali yang disebut dalam b.  200         kg/m2
b             Lantai dan tangga rumah sederhana dan gudang-gudang tidak penting yang bukan untuk toko, pabrik atau bengkel.                125         kg/m2
c              Lantai sekolah, ruang kuliah, kantor, toko, toserba, restoran, hotel, asrama dan rumah sakit.       250         kg/m2
d             Lantai ruang olah raga    400         kg/m2
e             Lantai ruang dansa          500         kg/m2
f              Lantai dan balkon dalam dari ruang-ruang untuk pertemuan yang lain dari pada yang disebut dalam a s/d e, seperti masjid, gereja, ruang pagelaran, ruang rapat, bioskop dan panggung penonton 400         kg/m2
g              Panggung penonton dengan tempat duduk tidak tetap atau untuk penonton yang berdiri.           500         kg/m2
h             Tangga, bordes tangga dan gang dari yang disebut dalam c           300         kg/m2
i               Tangga, bordes tangga dan gang dari yang disebut dalam d, e, f dan g.    500         kg/m2
j               Lantai ruang pelengkap dari yang disebut dalam c, d, e, f dan g.  250         kg/m2
k              Lantai untuk:  pabrik, bengkel, gudang, perpustakaan, ruang arsip, toko buku, toko besi, ruang alat-alat dan ruang mesin, harus direncanakan terhadap beban hidup yang ditentukan tersendiri, dengan minimum               400         kg/m2
l               Lantai gedung parkir bertingkat:                               
- untuk lantai bawah       800         kg/m2
- untuk lantai tingkat lainnya       400         kg/m2
m            Balkon-balkon yang menjorok bebas keluar harus direncanakan terhadap beban hidup dari lantai ruang yang berbatasan, dengan minimum   300         kg/m2

Beban Hidup pada atap gedung, yang dapat dicapai dan dibebani oleh orang, harus diambil minimum sebesar 100 kg/m2 bidang datar.
Atap dan/atau bagian atap yang  tidak dapat dicapai  dan dibebani oleh orang, harus diambil yang menentukan (terbesar) dari:
Beban terbagi rata air hujan, Wah = 40 - 0,8 α
dengan α = sudut kemiringan atap, derajat ( jika α > 50o dapat diabaikan).Wah  = beban air hujan, kg/m2 (min. Wah atau 20 kg/m2).
Beban terpusat berasal dari seorang pekerja atau seorang pemadam kebakaran dengan peralatannya sebesar minimum 100 kg.
Balok   tepi   atau   gordeng   tepi   dari   atap   yang   tidak   cukup   ditunjang   oleh   dinding   atauvpenunjang   lainnya   dan   pada   kantilever   harus   ditinjau   kemungkinan   adanya   beban   hidup terpusat sebesar minimum 200 kg.

Beban Hidup  Horizontal perlu ditinjau akibat gaya desak orang yang nilainya berkisar 5% s/d 10% dari beban hidup vertikal (gravitasi).

Reduksi Beban Hidup  pada perencanaan  balok induk dan portal (beban vertikal/gravitasi), untuk   memperhitungkan  peluang   terjadinya  nilai   beban   hidup   yang   berubah-ubah,   beban hidup merata tersebut dapat dikalikan dengan koefisien reduksi.